Penelitian merupakan sebuah proses
yang panjang dan rumit. Penelitian berawal dari minat untuk menilik sejumlah
fenomena tertentu dan yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah gagasan,
teori, dan konseptualisasi. Hasil akhir daripada sebuah penelitian adalah
gagasan dan teori baru, sehingga menjadi suatu proses yang tiada hentinya.
Hasil akhir tersebut yang harus dilakukan oleh masyarakat Indonesia saat ini
dibalik hiruk pikuk pesta demokrasi
capres dan cawapres periode 2014 – 2019. Rakyat Indonesia diajak untuk
meneliti dengan jeli siapakah pemimpin bangsa Indonesia yang layak untuk menangani
seluruh masalah pembangunan Indonesia. Masyarakat Indonesia hendaknya
menggunakan kaca pembesar untuk meneropong lebih jauh sebelum memilih calon
pemimpin bangsa. Titik tolak pada sebuah penelitian adalah kepekaan dan minat
dan didukung oleh akal sehat (common
sense).
Pemimpin bangsa berdedikasi tinggi,
yakni hendaknya bekerja dan melayani untuk rakyat, karena bahwasanya
pemerintahan beroperasi dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Sebuah
transparansi besar wajib dimiliki oleh pemimpin bangsa. Bukan hanya transparan
mengenai sistem kepemerintahan, namun transparansi diri penting, sehingga
rakyat tidak mudah terlena dengan harapan palsu calon pemimpin bangsa.
Transparansi diri pemimpin bangsa dapat memudahkan rakyat untuk menyaring dan
memilih siapa calon pemimpin bangsa yang benar – benar mempedulikan kesejahteraan
rakyat.
Revolusi mental hal yang miskin saat
ini. Revolusi mental digunakan untuk menyelesaikan ganjalan besar dan pelik di
negara Indonesia. Perlahan namun pasti, merupakan alur revolusi mental bekerja.
Tak terbentuknya harmonisasi kehidupan di Indonesia memaksa rakyat Indonesia
untuk berpikir jernih, berpikir memulai segala sesuatu dengan diri sendiri.
Jawaban mengapa masalah krusial terus terjadi di bumi ini adalah berasal dari
manusia itu sendiri. Problema manusia terus terjadi seiring krisis kemanusiaan,
akal sehat mulai di press dengan
berbagai pertikaian hingga mencapai titik klimaks.
Pemimpin bangsa yang arif adalah
pemimpin bangsa yang memiliki nalar dan naluri, paham mengenai konsep
penciptaan manusia. Penciptaan manusia meliputi hak asasi menusia, tanggung
jawab manusia, dan kewajiban manusia. Tak bisa dipungkiri, semua yang ada di
dunia ini hanya sementara dan berasal dari Tuhan YME, maka haruslah pemimpin
bangsa kembali pada teori penciptaan manusia yang mutlak, sehingga perlahan akan
membentuk gelombang kehidupan yang merata. Kembali pada ajaran Pancasila,
pemimpin bangsa yang layak adalah mereka yang mampu mewujudkan ajaran Pancasila
sesungguhnya, yakni mengembalikan fungsi teori penciptaan manusia.
With LOVE,
Fransisca Stefanie Chandra