Sebuah desa tertinggal nan jauh dari
hiruk pikuk keramaian. Bernama desa Tawangrejo, terletak di Kec. Jatirejo, Kab.
Mojokerto. Desa ini terletak di daerah pegunungan dan di kelilingi oleh hutan.
Jalan menuju ke desa Tawangrejo sangat panjang dan melalui banyak jalan
bebatuan yang menandakan betapa jauh dari sebuah keramaian kota yang sarat
dengan euphoria. Kondisi lingkungan desa
Tawangrejo terlihat masih sangat kotor, terutama
kondisi lingkungan sekolah SDN
Tawangrejo, banyak sampah yang berserakan di halaman sekolah, hal ini
disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat dan anak-anak terhadap
kebersihan lingkungan.
Pemandangan Lumut Mewarnai
Tujuan dari kegiatan Live In adalah untuk meningkatkan rasa kepedulian mahasiswa Universitas Kristen Petra dan membantu meningkatkan kesejahteraan
masyarakat di desa Tawangrejo. Isi dari kegiatan Live In terdiri dari proyek fisik dan proyek non fisik. Proyek
fisik di antaranya adalah renovasi WC,
mengecat pagar sekolah, mengecat tembok dinding sekolah PAUD Tawangrejo, menanam
pohon, memberi tong sampah dan papan value.
Sedangkan, proyek non fisik di antaranya mengadakan bimbingan belajar, memasak
bersama, nonton bareng, dan talent show.
Rencana dampak yang diharapkan pada kegiatan Live In adalah mahasiswa
dapat bersyukur terhadap kehidupan yang telah dimilikinya, mahasiswa dapat
bergotong royong dengan warga desa Tawangrejo, untuk membangun sarana prasarana
pendidikan dan kesehatan yang lebih layak, dan meningkatnya mutu pendidikan dan
bakat dari anak-anak Desa Tawangrejo, Kec. Jatirejo, Mojokerto.
Perjuangan Keras
Dengan segenap hati dan jiwa,
panitia berusaha untuk melayani sepenuh hati dari awal persiapan hingga hari-H
acara. Banyak rintangan dan kendala yang menghinggapi perjalanan persiapan
acara, namun hal tersebut tidak menjadi sebuah batu yang menghalangi sebuah
pelayanan dan pengabdian pada masyarakat. Kendala teknis, ekonomi, waktu
merupakan konsumsi setiap hari panitia dalam menjalankan persiapan kegiatan Live In. Namun, komitmen panitia akan
pelayanan dengan sepenuh hati terus menjadi motivasi kuat di dalam darah tiap
individu. Kerja keras, saling mengayomi, kebersamaan, kerja sama, kemauan
keras, saling menerima, dan evaluasi diri dan team merupakan kekuatan yang
mendarah daging di 25 orang panitia selama menjalani kepanitiaan. Tidur hanya 1
– 2 jam merupakan keresahan tersendiri di kala kegiatan berlangsung, persiapan
hingga persiapan dilakukan sampai matang agar kegiatan yang terencana dapat
sukses adanya. Kekurangan biaya juga dilewati oleh panitia, namun dengan ide
kreatif dan kemauan keras, panitia berinisiatif untuk menjual nasi kotak dan
menjual barang bekas di pasar yang terkumpul oleh mahasiswa sendiri. Alhasil,
dana yang kurang dapat tertutupi. Memang dibutuhkan kerja keras dan banting
tulang saat melewati proses yang ada. Seperti kata orang bijak, tidak ada
kesuksesan yang jatuh sendiri dari langit, melainkan harus melewati ribuan
proses.
Sejuta
harapan tertuang oleh panitia Live In, salah
satunya adalah warga desa Tawangrejo mendapat sebuah dampak ketika mahasiswa
hadir, adanya perubahan ke arah yang lebih baik, secara fisik maupun non fisik,
dengan kata lain memberdayakan desa Tawangrejo berhasil dilakukan. Selain itu,
peserta dan panitia yang berpartisipasi nyaman dan puas setelah mengikuti
kegiatan Live In.
hmmmmmmmmm
BalasHapus